Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berharap ketegasan hukum memberantas mafia beras yang kerap berulah memunculkan beras siluman di pasar. Tanpa ketegasan hukum, antisipasi yang dilakukan pihaknya tidak dapat menimbulkan efek jera.

"Penegakan hukum harus menindak tegas. Kalau ada yang menimbun-nimbun ditindak tegas," kata Amran di sela-sela kunjungan ke Desa Tonro Lima, Polewali Mandar, Sulbar, Selasa (16/2).

Dikatakan pemerintah telah melakukan langkah antisipasi mengurangi kehadiran beras siluman di pasar. Salah satunya memberi bantuan alat penggiling padi atau gabah (Rice Milling Unit/RMU) kepada petani secara langsung sehingga memotong masuknya pihak ketiga sekaligus memangkas biaya mahal.

"Kiatnya sudah dilakukan (mengantisipiasi beras siluman) dengan berdirinya RMU milik pemerintah yang diberikan kepada petani. Jadi hasil padi bisa langsung ke pasar, ke toko-toko," ungkapnya.

Di Desa Tonro Lima, Mentan Amran memberikan bantuan yang dananya diambil dari APBN 2016 antara lain, memberikan 134 unit mini traktor (TR2), 20 unit trasnplanter (alat tanam padi), 20 unit alat pompa air 20, dua unit alat panen, dan RMU serta gudang penggilingan padi untuk lima paket.

Amran mengatakan, pihaknya terus bekerja memperbaiki struktur pasar, infrastruktur, memberikan benih unggul dan teknologi kepada petani yang diyakini mampu menyelesaikan persoalan tataniaga pangan selain meningkatkan produktivitas pangan.

"Adanya RMU membuat petani dan konsumen diuntungkan. Harga beras sekarang kisaran Rp 7500-Rp 8000. Tidak boleh lebih dari Rp 800. Jadi
Kita geser keuntungan yang selama ini middleman (pengusaha perantara) menikmati. Jadi konsumen senang, petani ikut senang," katanya. [E-11/L-8]


Komentar (0)

Berikan Komentar