Empat orang warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban sandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina telah dipulangkan ke Indonesia.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan, pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait gerakan kelompok bersenjata Abu Sayyaf yang terindikasi memiliki informan atau mata-mata di Indonesia.

Pengamat intelijen dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menyatakan, Panglima TNI harus membuktikan adanya pernyataan tersebut.

"Saya kira sinyalemen panglima itu insinuatif. Adakah fakta pendukungnya? Lalu apa perlunya dibuka ke publik?" kata Khairul saat dihubungi Sindonews, Senin (26/9/2016).

"Itu akhirnya hanya menimbulkan keresahan dan kesan seolah kita hanya mencari kambing hitam atas kegagalan memberi rasa aman di wilayah perairan kita," imbuhnya.

Khairul menyatakan, karena pernyataan tersebut sudah dibuka, Panglima TNI harus bisa membuktikan tudingannya dan tunjuk hidung. Karena lanjut dia, tentu saja jika dugaan itu benar, tidak boleh dibiarkan dan hanya mengeluh kiri kanan.

"Selain itu, di era yang terbuka seperti saat ini, mendapat informasi-informasi strategis dan sensitif tak selalu memerlukan spionase. Sumber-sumber terbuka, seperti media sosial misalnya, kerap menyajikan 'bocoran' yang akurat," tandasnya.

Diketahui sebelumnya, Gatot mencurigai adanya mata-mata dari Abu Sayyaf di Indonesia. Pasalnya, pada saat melakukan aksinya, kelompok bersenjata Abu Sayyaf terkesan sangat mudah saat melakukan penyanderaan terhadap WNI.


Komentar (0)

Berikan Komentar